Sabtu, 30 November 2013

Kesadaran diri seseorang dan Egois-nya

Saya ingin menocba memaparkan pemikiran saya saat ini. Mungkin saja suatu hari pemikiran saya akan berubah. Tidak ada yang bisa menduga, bukan?

Suatu individu pasti mengalami perubahan dalam hidupnya, termasuk juga pola pikir. Bocah juga termasuk individu, berarti saya juga mengalami perubahan dan tentunya pola pikir! Berhubung sifat saya abstrak, pola pikir saya juga abstrak!


Egois. . .
Saya benci dengan sifat itu. Tapi, ada yang mengatakan bahwa untuk mencapai mimpi kita, terkadang kita perlu untuk bersikap egois. Saya tidak menyangkal, hal itu memang benar.

Namun, egois yang bagaimana?
Apakah egois itu sama seperti tokoh antagonis yang sering kita lihat di sinetron maupun drama? Atau dalam K-Drama? Atau.. Seperti yang ada di film India?
Jika ya, maka saya benci itu. Mengapa? Karena, ia merugikan orang lain. Bagaimana kalau disebut sebagai menghalalkan segala cara?

Jika egois itu seperti tokoh protagonis dalam… yahh, seperti yang kita sebutkan di beberapa paragraf sebelumnya, mungkin saya setuju. Karena, ia berusaha dengan kemampuannya sendiri.

 Baiklah, saya akan mencoba menyederhanakannya. Proses penyederhanaan  ini berbeda dengan proses penyederhanaan rumus matematika, ok?

Agar lebih mudah dimengerti seperti kita memahami buku cerita anak-anak, saya akan menggunakan ilustrasi yang sangat ‘ramah lingkungan’ . . . SINETRON!  Tidak suka? Mau diganti dengan film India saja? Terserah, yang penting baunya seperti itu!

Menurut saya sebagai bocah abstrak, egois itu terbagi dua.
1. Egois positif
2. Egois negatif



EGOIS POSITIF

Egois positif yang saya maskudkan ini mari dibayangkan sebagai tokoh protagonis dalam sinetron. Bagaimana biasanya sifat tokoh tersebut? Menyakiti diri sendiri? Yeah! Itu poin yang saya maksud. Oke, ini tidak terdengar positif. Tapi, setidaknya ia tidak mau merugikan orang lain untuk mencapai impiannya. Ia ingin berjuang sendiri dengan dirinya sendiri. Bisa dikatakan, dia percaya dengan dirinya sendiri karena ia tidak perlu sampai melakukan hal-hal licik ataupun curang. Egois disini adalah egois dengan dirinya sendiri, seperti egois dengan waktu tidurnya, egois dengan waktu makannya.

Contohnya : Seseorang besok akan mengikuti ujian semester, ia egois dengan waktu tidurnya untuk belajar sepanjang malam. Seseorang belum menyelesaikan PR-nya, ia menunda waktu makannya sampai tugasnya selesai.



EGOIS NEGATIF

Segera bayangkan tokoh antagonis yang paling anda benci ! Hmm.. Saya mendengar ibu biologis Souichirou Arima disebut-sebut disini. Er? Sepertinya, itu tokoh dalam manga ya? Tapi, tunggu dulu! Kare Kano kan sudah ada animenya, bisa bisa~ :D

Oke, skip Kare Kano yang masih terus menari-nari dalam pikiran saya padahal saya sudah menyumbatnya dengan komik lain. Skip manhwa Bad Cinderella yang terus mengingatkan saya dengan Cha Eun Soo!  :p

Menghalalkan segala cara… Berbuat licik dan curang terkadang sampai melukai fisik seseorang.

Itulah egois negatif yang saya maksud. Ia merugikan orang lain! Yang melakukan ini tidak lebih dari seorang pecundang yang tidak percaya dengan potensi murni dalam dirinya. Ataukah.. Ia memang sudah sadar dirinya tidak mampu jadi melakukan hal ini? Entahlah~ Yang jelas, ini yang paling saya benci.

Oke, jangan menjadi munafik. Semua orang pasti pernah berbuat curang, bahkan saya juga pernah. Dan, saya sangat menyesali dan malu pada diri sendiri.

Tapi, perlukah kita untuk selalu berbuat dosa untuk mencapai keinginan kita? Bukan maksud saya bahwa sesekali curang itu boleh, tapi.. Perlukah berbuat sampai sejauh itu?

Nah, egois negatif ini ingin saya kaitkan dengan kesadaran diri. Terkadang, saya ingin bertanya pada orang-orang yang sering memproduksi/mengkonsumsi egois negatif ini.

"Tidakkah kalian malu pada diri kalian dan pada pencipta?"

"Apa saja yang kalian lakukan hingga nekat mengambil jalan yang kotor ini?"

"Pernahkah kalian menyesal?"

"Adakah rasa menyesal itu hanya terucap dari bibir kalian dan bukan dari hati kalian?"

"Sepenting itukah impian kalian sehingga sampai hati untuk merugikan orang lain?"

"Kemana hati nurani dan percaya diri kalian?"



Dan, rata-rata dari hasil pengamatan kilat saya, penyebab tingginya peminat egois negatif ini adalah.. MALAS.

Malas berusaha? Oh, memalukan!

Tidak mau rugi? Tidak tau diri!

Menurut saya, kesadaran diri seseorang akan terkikis dan terus terkikis bahkan habis jika ia terus menggunakan egois negatifnya. Kesadaran dirinya akan ditutupi oleh keinginan-keinginan lainnya yang harus ‘segera’ ia penuhi karena sudah pada hakikatnya bahwa manusia itu memiliki rasa tidak pernah puas dan terus menginginkan lebih.

Bolehkah saya segera mengambil kesimpulan? Pernahkan kalian mendengar kalimat.yang seperti ini. *yang sering membuat saya keki*.

1. Saya tidak pernah salah
2. Jika saya salah, kembali ke nomor 1
 
 (Ingin sekali saya menambahkan satu pasal lagi yang bunyinya “Jika saya salah lagi, saya juga manusia, tidak usah kembali ke nomor 1 lagi″)

Nah, begitulah yang ingin saya tambahkan

Tempat yang ingin kita tuju melewati jalan egois positif. Jika bertemu jalan pintas egois negatif, putar balik dan tetap cari jalan egois positif.

Ya, kira-kira begitu.

Untuk saat ini, itulah hasil pemikiran saya mengenai kesadaran diri dan egois. :)

Jika ada yang membaca tulisan ini, semoga ini bisa menjadi bahan renungan untuk menjadi pribadi yang jujur, walau terkadang akan mengalami kesulitan dan kesusahan! (^^)9

0 komentar:

Posting Komentar